Selasa, 22 November 2016

Sejarah adalah simpul-simpul kejayaan masa lalu yang menjadi pijakan atas terciptanya kejayaan baru di masa yang akan datang.
Bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai kerajaan serta cerita penjajahan yang silih berganti. Setiap pergantian periode telah meninggalkan bukti atas eksistensinya. Banyak bukti-bukti yang dimilikinya. Sebut saja prasasti, candi, karya sastra, dan lain-lain. Bukti inilah yang harus kita jaga sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para pelaku sejarah di masa lalu.
Upaya penghargaan yang dapat kita lakukan adalah dengan mengunjungi situs-situs peninggalan sejarah. Situs-situs ini menyimpan banyak cerita tentang masa lampau yang bermanfaat bagi tambahan pengetahuan kita. Selain itu, wisata ini sekaligus mampu menumbuhkan semangat nasionalisme dan rasa cinta terhadap karya anak bangsa.
Salah satunya adalah candi yang terletak di Desa Toyomarto, kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini bernama Candi Sumberawan.
Candi Sumberawan  berupa sebuah stupa, di kaki Gunung Arjuna berlokasi di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari dan digunakan oleh umat Buddhapada masa itu.
Candi yang berada sekitar 7 Km dari Kota Malang ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi 5,23 m, dibangun pada ketinggian 650 m di atas permukaan laut, di kaki bukit Gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya karena mengalir setiap tahun. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan.
Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904. Pada tahun 1935 diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala. Pada zaman Hindia Belanda pada tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat.
Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Batur candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief. Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Karena ada beberapa kesulitan dalam perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Diduga dulu pada puncaknya tidak dipasang atau dihias dengan payung atau chattra, karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali. Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan di dalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya. Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikannya untuk pemujaan dan cocok untuk meditasi.
Para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat tersebut telah dikunjungi Hayam Wuruk pada tahun 1359 masehi, sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupanya) dapat diperkirakan bahwa bangunan Candi Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai 15 masehi yaitu pada periode Majapahit. Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.